Belakangan ini, ” Drama Dewan Harley Davidson ” menjadi tajuk utama yang menarik perhatian investor dan penggemar. Sebuah pertarungan sengit terjadi di balik layar, ketika salah satu investor terbesar, H Partners Management, berupaya menggulingkan CEO Jochen Zeitz dan dua anggota dewan direksi lainnya. Ini adalah ujian nyata bagi tata kelola perusahaan ikonik tersebut.
Inti dari Drama Dewan Harley Davidson ini adalah ketidakpuasan H Partners terhadap kinerja perusahaan, terutama penurunan penjualan dan anjloknya harga saham. Mereka menuduh kepemimpinan Zeitz tidak efektif, bahkan menyebutnya sebagai “kepemimpinan yang absen” karena seringnya Zeitz berada di luar markas besar di Milwaukee.
Konflik memuncak setelah Jochen Zeitz mengumumkan rencana pensiunnya pada akhir 2025. H Partners Management lantas mencoba mendorong kandidat pilihan mereka sebagai CEO pengganti, yang tidak disetujui oleh anggota dewan lainnya. Ini memicu pengunduran diri Jared Dourdeville, perwakilan H Partners di dewan, yang kemudian memulai kampanye “withhold-the-vote” untuk menekan Zeitz dan direktur lainnya.
Dalam kampanye tersebut, H Partners meluncurkan situs web khusus, “FreeTheEagle.com”, untuk menggalang dukungan pemegang saham. Mereka mengklaim bahwa drama dewan Harley-Davidson ini adalah upaya untuk “membebaskan jiwa Harley” dari manajemen yang dianggap kurang akuntabel dan tidak fokus pada nilai inti merek.
Namun, upaya kudeta terhadap dewan direksi Harley-Davidson akhirnya menemui kegagalan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2025, para pemegang saham memilih untuk tetap mendukung struktur dewan yang ada, termasuk mempertahankan Jochen Zeitz sebagai Ketua, Presiden, dan CEO. Ini mengakhiri drama dewan Harley-Davidson yang berkepanjangan.
Harley-Davidson dan anggota dewan yang ada mempertahankan posisi mereka dengan argumen bahwa rencana strategis “The Hardwire” yang diterapkan Zeitz adalah yang terbaik untuk pertumbuhan jangka panjang. Mereka juga menyoroti bahwa H Partners sebelumnya mendukung kepemimpinan dan strategi tersebut, dan perubahan sikap mereka baru-baru ini dinilai kurang konsisten.
Hasil ini menegaskan bahwa Jochen Zeitz, meskipun menghadapi tekanan dan kontroversi (termasuk komentar kontroversialnya yang memicu reaksi negatif), tetap mendapatkan kepercayaan dari mayoritas pemegang saham. Ini memberikan stabilitas yang dibutuhkan perusahaan untuk terus menjalankan rencana transformasinya.